Taman Wisata Alam Mangrove PIK

6:47:00 AM

Di suatu sore tetiba suami ngajakin weekend ini main ke wisata alam untuk refreshing. Kebetulan beberapa waktu yang lalu saya lihat ada teman di instagram yang upload foto di taman mangrove yang sepertinya lagi happening banget. Akhirnya kami putuskan untuk ke Taman Wisata Alam (TWA) Mangrove di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.

Dengan bermodalkan GPS, kami nekad aja ke sana. Namanya juga nekad ya, kami nyasar, saudara-saudara! :D Setelah perjalanan 1,5 jam akhirnya sampai juga di TWA PIK sekitar jam 4-an. Harga tiket TWA Mangrove PIK ini cukup terjangkau, untuk dewasa 25 ribu dan anak 10 ribu. Sedangkan untuk biaya parkir motor 5 ribu dan mobil 10 ribu. Oh iya, untuk bisa melakukan foto prewedding di TWA Mangrove PIK ini pengunjung dikenakan biaya 1,5 juta.

Sekitar 10 meter dari pintu masuk terdapat masjid yang cukup luas dan nyaman. Masjid ini unik karena hampir keseluruhannya terbuat dari kayu dan terletak di atas rawa. Untuk menuju masjid harus melewati jembatan kayu ini.

Jembatan menuju masjid

Dari masjid kami harus berjalan lagi sekitar 100 meter menuju tempat pemeriksaan. Di tempat ini petugas akan memeriksa tiket masuk dan juga memastikan apakah kami membawa kamera selain HP atau nggak karena ada aturan nggak boleh membawa kamera selain HP tanpa ijin. Membawa kamera selain HP dikenakan biaya 1,5 juta. Lumayan pricey ya. Jadi mendingan ngaku aja daripada didenda 2 kali lipat. :0

Ada larangan bawa kamera non HP, makanan minuman, dan binatang

Setelah melewati pemeriksaan ini, ada jalan bercabang, ke kiri menuju arah jembatan besar dimana kami bisa menyusuri hutan mangrove di atas jembatan, sedangkan ke kanan ada kantin dan penginapan. Mau lewat kanan atau kiri sama aja karena nanti juga bakal tembus. 

Di atas jembatan  besar. Menurut saya lebih cocok dinamai jembatan panjang karena ternyata memang jauh.

Saya berdoa aja semoga di rawa ini nggak ada buayanya *korban film*. Kalau mau ke sini lebih baik pakai flat shoes atau sandal karena ternyata jembatan ini sangat panjang sekali. Selain itu juga di jembatan yang kecil terbuat dari kayu bulat yang dijajar-jajar jadi nggak rapat sempurna. Kebayang dong gimana repotnya di sini kalau pakai high heels :D

Selain lewat jembatan, pengunjung juga bisa menikmati hutan mangrove dengan mendayung perahu seperti yang terlihat di belakang kami itu. Kemarin kami nggak sempat nyobain naik perahu karena udah kesorean. Fyi, TWA ini tutup jam 18.00. Mungkin next time kalau ke sini lagi bareng krucil-krucil nyicipin naik perahu dayung.

Kalau mau naik wahana air ini, setelah pintu pemeriksaan tiket tadi sebaiknya ambil jalan yang ke kanan (yang ke arah kantin) soalnya kalau lewat jembatan besar dulu baru ke sini udah capek duluan, 

Di TWA ini juga disediakan penginapan yang tentunya juga dibangun dari kayu-kayu. Penginapan ini ada yang lokasinya di darat dan ada juga yang di atas rawa.

Kalau yang ini penginapannya di atas air. Foto ini diambil dari jembatan besar.


Di belakang sana penginapannya mirip tenda anak pramuka. Di lokasi ini juga bisa membuat tenda nonpermanen.
Ada payung terbang :D

Jembatan gantung. Lokasinya dekat dermaga wisata air.

Jalan menuju menara

Pemandangan dari atas menara. Seger ya...
Semoga pembangunan di sana itu nggak merembet ke kawasan mangrove ini.

Waktu 1,5 jam sepertinya nggak cukup untuk menjelajah setiap sudut di kawasan mangrove ini. Berada di zona mangrove ini berasa kayak lagi nggak di Jakarta. TWA ini bisa menjadi alternatif tempat wisata alam yang cukup menyenangkan bagi warga Jakarta yang rindu hijaunya alam tetapi lagi nggak bisa pergi jauh-jauh dari Jakarta. Di sini juga tentunya banyak spot-spot keren buat foto-foto. Hehe. Semoga kawasan ini tetap lestari dan semakin hijau. Overall nggak nyesel datang ke sini. Pulang-pulang bahagia. 

"The greatest threat to our planet is the belief that someone else will save it" ~Robert Swan.


Manov

You Might Also Like

0 comments